Obrolan Angkringan

Obrolan Angkringan

http://lovelybogor.com/wp-content/uploads/2016/05/angkringan-solo-lestari-03.jpg
google.com


Solo masih dingin sebab baru saja turun hujan. Hujan di bulan Oktober terasa begitu menggigil. Kabut pun turun pelan-pelan di jalanan Slamet Riyadi. Menyisakan kenangan dan keramahan warga kota solo. Sore ini senja tak nampak seperti biasa. Mungkin karena awan terlihat hitam sehitam dosa-dosa anak manusia di bumi. 
Beberapa Manusia mulai beristirahat, sisanya lagi memulai aktivitasnya dimalam hari. Malam ini aku berencana mengajak kawanku yang berasal dari Malang untuk berjalan-jalan menikmati waktu. Kota solo bagiku adalah sebuah kehangatan meskipun kehangatan yang aku maksud adalah banyaknya angkringan disudut jalan ataupun gang dan perempatan. Kesederhanaan adalah kebahagian yang paling mudah ditemukan. Karena tak memiliki tujuan akhirnya aku dan kawanku menepi di sebuah angkringan di salah satu sudut alun-alun Keraton.
“Sur mampir angkringan yo.” Kataku.
“Wah tumben ngajak mampir angkringan,”  Kata surya kawanku.
“Menghangatkan diril sambil ngobrol-ngobrol ringan lah.”
“Ayolah.” Kata kawanku Surya mengiyakan ajakanku.
Rasanya Tidak seperti biasa angkringan malam itu terasa sepi. Ya mungkin karena baru saja turun hujan jadi orang-orang malas untuk pergi keluar rumah.
“Kang kulo Pesen Susu Jahe panas nggih, Sur awakmu pesen opo?” (mas saya pesan susu jahe panas ya,sur kamu pesan apa?)
“Aku Jeruk anget wae”. Kata surya kawanku. (Aku jeruk hangat saja).
“Kaleh Jeruk anget nggih kang.”  (sama jeruk hangat ya mas).
“oke beres mas.” Kata si penjual angkringan yang segera menyiapkan apa yang aku pesan.
Selang beberapa menit pesanan kami datang. Ah harum aroma susu jahe memang menghangatkan. Seperti memahami kerinduan kepada orang tersayang dimanapun mereka berada.
“Ternuwun mas.” (makasih mas) Kataku.
Malam semakin larut dalam keheningan,tapi begitu banyak keanehan yang terjadi. Jika biasanya semakin malam kota Solo harusnya semakin sepi, tapi pada hari itu malah justru semakin ramai.
“Sur sadar ndak? Kok malah makin rame ya jalanan.” (Sur sadar tidak kok jalan semakin rame ya).
“iya juga ya, coba cek kalender mungkin ada event.”
Iya kota Solo itu banyak sekali diadakan acara kebudayaan. Mungkin satu bulan sekali pasti selalu diadakan acara kebudayaan. Kota yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal.
“Pantes rame Sur, ternyata malam ini peringatan Malam Satu Suro.” Kataku.
“Malam Satu Suro?.” tanya kawanku.
 “haha Oke, Sekarang duduk yang manis tak ceritain tentang Malam Satu Suro.” Kataku.
Dikota Solo setiap kali Tahun baru Islam tiba. Masyarakat memiliki Tradisi untuk memperingatinya. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Perayaan malam Satu Suro. Banyak hal yang bisa ditemui di perayaan malam Satu Suro, seperti Sekaten (Pasar malam) dan tentu saja yang paling menarik yaitu Kirab Kebo bule. Kenapa dipanggil kebo bule, karena kebo (kerbau) dikota Solo ini adalah jenis kerbau albino jadi kerbaunya sendiri cenderung berwarna putih.
“Sumpah ada kerbau berwarna putih?” tanya Surya kawanku.
“iya sur malah kerbaunya punya nama lo.”
“Siapa namanya?”
“Kyai Slamet.” jawabku
    Kerbau paling terkenal adalah kerbau Kyai Slamet. Sebenarnya Kyai Slamet bukanlah nama dari kerbau itu sendiri melainkan nama dari pusaka kerajaan yang tak kasat mata. Dan kerbau bule inilah yang bertugas untuk menjaga pusaka kasunanan Surakarta tersebut. Namun, karena pusaka ini bersifat tak kasat mata dan hanya Raja sendiri yang bisa melihatnya. Maka dari itu masyarakat menganggap kebo bule ini dengan sebutan Kyai Slamet.
“Wah keren ya pusakanya tak kasat mata.” Kata Suya terheran-heran.
“Tapi aku denger kabar angin katanya kebo Kyai Slamet sendiri sudah meninggal Sur.”
“Loh iya ta?”
“Nggih mas memang sudah meninggal.” Tiba-tiba saja Aku dan Surya dikejutkan oleh suara pemilik angkringan yang ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan kami.
“Monggo mas gabung mriki.” (Silahkan mas gabung disini) Kataku.
“Jadi kebetulan saudaraku itu Abdi dalem di Kraton mas jadi saya tau langsung dari Dia.” Kata Pemilik angkringan yang setelah itu kami tau ternyata namanya Tono.
“Ow begitu nggih mas.” Kataku yang semakin penasaran dengan cerita dari mas tono.
“Sejarahnya panjang mas tentang peringatan malam Satu Suro.” Kata mas Tono
“Gapapa mas Saya dan kawan Saya pengen tau lebih jelasnya.” Pintaku.
“Oke tak ceritain mas.” Jawab mas Tono.
“Hore” teriak kami berdua.
“Sewaktu Pemerintahan Paku Buwono II, sekitar abad ke 17 Kraton itu masih di Kartasura belum Di Solo mas, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi sebuah pemberontakan yang dilancarkan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat Raja Paku Buwono II harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan tinggal di sana untuk beberapa waktu hingga kondisi aman. Pada masa pelariannya di Ponorogo tersebut, Sang Raja Kartasura itu mendapatkan wangsit mas ya berupa bisikan gaib. Isi wangsitnya iku bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau yang warnanya iku cenderung putih suapaya Kerajaan itu aman mas.Nah kebetulan Bupati Ponorogo iku mau menunjukan baktinya kepada sinuwun. Dengan cara ya memberikan sepasang kebo bule. Kebo bule atau kerbau albino iku hewan peliharaan yang sangat langka. Maka sinuwun Paku Buwono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Solo dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.”
“Wah keren mas sejarahe, berarti kebo iku nenek moyange kita yo mas Hehe.”
“iyo mas, makanya sampai sekarang Kerbau iku dijaga satu kali duapuluh empat jam.” Kata mas Tono
“Wajib lapor mas. Haha.” Jawab Surya.
"Haha mas bisa aja.”
    Tradisi Kirab Kebo bule ini memang sudah sangat melekat di kehidupan masyarakat Kota Solo. Rasa antusias masyarakat sendiri sangatlah besar. Bahkan bukan hanya warga kota Solo yang datang saat perayaan Kirab Kebo Bule diadakan. Masyarakat dari segala penjuru kota datang berkumpul di kota Solo yang begitu kecil tapi sangat indah ini. Selama Kirab berlangsung biasanya para Abdi Dalem akan melakukan tapa bisu atau tidak berbicara. Kerbau Bule akan diarak di jalanan. Dan biasanya para warga akan berebut untuk menyetuh kebo yang sangat keramat ini. Bahkan sebagian Masyarakat percaya jika bisa menyentuh kebo bule ini keberuntungan akan menghampiri hidup kita. Bukan Cuma itu saja, di sepanjang perjalanan saat kirab berlangsung kotoran dari kebo bule akan menjadi rebutan warga karena dipercaya membawa berkah bagi kehidupan.
    Kegiatan Kirab Malam Satu Suro sendiri diadakan atau tidaknya juga bergantung kepada kebo bule yang ada. Jika para kebo tidak mau keluar kandang, maka kirab tidak akan dilaksanakan. Malam satu suro sendiri juga dipercaya sebagai malam yang sakral karena batas antara dunia manusia dan dunia gaib berada dalam garis tipis. Oleh sebab itu malam satu suro juga menjadi momentum para Raja dan Abdi Dalem untuk membersihkan pusaka yang ada di Kraton Kasunanan Surakarta.
“Mas wes jam duabelas lo aku arep tutup.” Kata mas Tono.
“lah mas, tumben jam rolas wes tutup. Biasane sampai jam telu baru tutup.” (Kok tumben jam duabelas sudah tutup biasanya sampai jam tiga) Tanyaku.
“Arep nonto Kirab mas, ayo nonton bareng.” (mau nonton kirab mas, ayo nonton bareng).
“Weh iyo ya. Yowes ayo sur kita nonton juga bareng mas Tono.” Ajakku.
“Siap. Aku juga penasaran pengen nonton langsung.” Jawab Surya.
“Yowes ayo aku dibantu kukut-kukut ben cepet rampung gek budhal nonton.” (yasudah ayo aku dibantu beres-beres biar cepet selesai terus pergi menonton) Kata mas Tono.
“Beres mas.” Jawabkku serentak dengan Surya.
    Malam yang sungguh menyenangkan karena selain mendapatkan teman baru wedang susu jahe dan jeruk anget yang kami pesan tadi ternyata tidak dipungut biaya. Terimakasih mas Tono malam ini begitu hangat dan syahdu.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Penulis : SAKTI ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam Tulisan

Artikel Obrolan Angkringan ini dipublish oleh SAKTI pada hari Sabtu, 19 November 2016. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Obrolan Angkringan
 

0 comments:

Posting Komentar

diooda