SOFA TUA SI PEMARAH
Di sebuah gang kecil di sudut kota, saat itu hujan turun dengan sangat lebat. tembok-tembok jalanan dengan berbagai macam tulisan menyertai langkahku menuju ke orang-orang yang sudah menunggu di sudut jalan.
"Satu,dua,tiga,empat,lima.lima orang ya? Baiklah ayo segera kita mulai." kataku, lalu segera berlari ke arah mereka dan memukul salah satu dari mereka.
pukulan demi pukulan aku lancarkan, tapi melawan lima orang sekaligus itu aku rasa tidak mungkin seimbang. walupun akhirnya aku berhasil menumbangkan tiga dari lima orang tersebut. tapi kondisiku sudah sangat parah. darah bercucuran di kepalaku, mataku juga sudah berkunang-kunang. tubuhku sudah sangat bergetar. sampai pada akhirnya sebuah pukulan keras melayang tepat di kepalaku.
"Bruk!" aku terjatuh dengan sangat keras di dekat sekumpulan tong sampah.
"Ahh kenapa hari ini harus hujan? kenapa langit harus menangis? apa kau juga memiliki gangguan kejiwaan sama sepertiku?" kataku, sambil memandang ke atas langit, lalu seketika aku tak sadarkan diri.
Setelah aku membuka mataku langit yang kupandangi sudah berubah menjadi atap berwarna hitam kosong dengan hiasan bintang berwarna merah. Bau yang kucium pun terasa tidak asing. Aku tau jelas ini adalah kamarku. Tapi bagaimana aku bisa ada disini?
"Kau sudah bangun? bagaimana keadaanmu?' terdengar suara seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatku berbaring.
"Siapa kau?’ tanyaku dengan mata yang masih berkunang-kunang
"Apa kau sudah melupakanku? Setelah satu tahun kita tidak bertemu.” Jawabnya.
“Ah kepalaku sangat sakit. Apa maksudmu berkata seperti itu?”
“Jangan bergerak dan berbaringlah, aku akan mengobati lukamu.” Katanya sambil mulai memperban luka di kepalaku pelan.
‘Bukalah matamu, ini aku Tania.”
“Tania? Tania!” aku yang terkejut sontak langsung membuka mataku lebar-lebar.
‘’Apa yang kau lakukan disini?” kataku bertanya sambil menahan sakit di kepalaku.
“Apa kau bodoh? Sudah kubilang jangan bergerak dan berbaringlah.”
Seorang wanita berbadan kecil dengan mata berwarna biru dan berambut pendek. ya aku tidak salah, dia memang Tania. Tania adalah sahabatku sejak aku masih kuliah dulu. setelah sebuah tragedi yang terjadi dan akhirnya membuatku untuk mulai memutuskan hubungan dengannya. perkenalkan namaku Fana dan aku memiliki gangguan kejiwaan bipolar disorder, gangguan bipolar disorder yaitu gangguan otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari. Dalam kasusku aku bisa menjadi seseorang yang sangat pemarah dan kasar lalu bisa juga menjadi seseorang yang lembut, tergantung suasana hati yang aku rasakan.
"Apa kau yang membawaku kemarin malam?' tanyaku.
"Iya, ponselku tiba-tiba berdering dan aku lihat namamu sebagai si penelepon. lalu seseorang berbicara di telepon dan mengatakan kalau kau sedang pingsan di sebuah jalan umum. Jadi aku segera kesana dan menemukanmu terkapar di dekat tong sampah. Lalu aku segera meminta bantuan beberapa orang untuk membawamu kerumahmu. apa kau berkelahi lagi? lalu bagaimana kabarmu? sepertinya buruk ya?" jawab Tania sambil tertawa sinis.
“Kabarku? kabarku seperti yang kau lihat sekarang dan ya kau benar, aku baru saja berkelahi.”
Satu tahun yang lalu. Saat aku masih berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Di sebuah kampus yang pohonya sangat rindang dan menyejukkan. Aku adalah mahasiswa yang tidak memiliki teman sama sekali. Ya tentu saja karena sikapku yang pemarah Semua orang menjauhiku. Memalingkan mukanya ke arahku saja tidak ada yang berani Apalagi untuk berbicara denganku. Mungkin juga sudah tak terhitung berapa kali aku berkelahi di kampusku ini. Sebuah prestasi yang tidak patut dibanggakan bukan?.
Tapi ada satu orang yang aku tidak pernah mengerti bagaimana jalan pikirannya. Iya dia Tania, sahabatku satu-satunya di kampus. Dia tidak pernah takut dengan gangguan kejiwaan yang aku derita Bahkan di saat semua orang menjauhiku, dia masih berada disampingku. Sejak pertemuan pertama kami aku benar-benar ingat waktu itu. Saat dikelas tidak ada yang mau menerimaku sebagai anggota kelompoknya. Tania dengan beraninya menyapaku lalu mengajakku untuk membuat kelompok. Aku mungkin orang yang pemarah, tapi setiap ada seseorang yang peduli padaku aku akan sangat menghargainya. Itu sebabnya, karena Tania orang pertama yang memperlakukanku dengan baik, Aku mau menjadi sahabatnya.
“Hei Fana, kenapa diam saja?’ tanya Tania
“Aku sedang ingin melamun, jangan mengangguku!” jawabku.
“Melamun? pasti Melamun hal-hal jorok ya? ”
“Ngawur! Sebentar lagi kita akan lulus dari universitas ini dan pada akhirnya kita akan berjalan di jalan masing-masing. Aku bahkan tidak tau masa depan seperti apa yang akan aku hadapi nanti.” Kataku.
“Kau tidak sedang sakit kan fan? tidak seperti biasanya kamu memikirkan masa depan.” Kata Tania dengan nada mengejek.
“Aku bicara serius, jangan bercanda!” kataku sedikit membentak.
“Sudahlah, tidak penting membahas hal seperti ini, ayo kita ke atap.” ajak Tania
Ya, aku dan Tania memiliki kesukaan yang sama, kami berdua suka dengan tempat yang tinggi. Dan atap gedung fakultasku adalah tempat yang paling cocok, dimana kami berdua bisa membicarakan banyak hal dan bahkan berteriak untuk sekedar menghilangkan penat. Tempat kumuh dengan banyak coretan tidak jelas di dindingnya. Disana ada sofa tua yang sudah sangat peyot, disitulah kami biasanya duduk berdua lalu bercanda dan kadang-kadang berdebat berbagai hal yang tidak penting. Sebuah sofa yang sangat aku jaga meskipun sudah rusak. tapi disitulah keistimewaan dari sofa tua ini. Meskipun sudah rapuh di setiap sudutnya. Sofa ini masih bisa digunakan.
tiba-tiba Tania berteriak. “Fanaaaaaaaaa!!”
“Apaaaa? Kataku juga dengan berteriak.
“Ayo kita perbaiki sofa ini. Bukan kita tapi kamu yang harus perbaiki.”
“Kenapa harus diperbaiki? Ini kan masih bisa digunakan”
“Iya memang masih bisa digunakan, Tapi kan akan sakit kalau digunakan untuk duduk lama .”
“hmm, aku pikir-pikir dulu ya”
“Anggap saja ini permintaan pertamaku sebagai sahabatmu. Aku mau sofa ini diperbaiki. Jadi lebih bagus. bagaimana?”
Tania memang orang yang aneh, disaat banyak perempuan mungkin meminta hal-hal yang mahal atau baru. Permintaan pertama sahabatku ini malah untuk memperbaiki sofa tua yang peyot.
“Oke aku akan memperbaikinya.” Kataku.
“Asyik” sorak Tania gembira.
Keesokan harinya karena kuliah hari ini libur. aku berencana untuk memperbaiki sofa tua seperti permintaan Tania kemarin. Saat itu kampus sangat sepi, pasti kalian bertanya-tanya kenapa tidak ada orang lain yang berani naik ke atap selain aku dan Tania. Itu karena semua orang aku ancam untuk tidak pergi kesana. Tentu saja karena ancamanku tidak ada yang berani pergi kesana. Walaupun beberapa musuhku pernah menantangku berkelahi di atap. Tapi aku selalu menolak ajakan itu dan berkelahi melawan mereka di halaman belakang gedung. Bagiku, atap gedung adalah tempat yang sakral yang akan aku jaga sampai kapanpun. itu sebabnya, aku tidak pernah berkelahi di atap.
“Ah akhirnya selesai juga.” Kataku dengan keringat yang masih bercucuran karena lelah setelah selesai memperbaiki sofa tua peyot ini.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki seseorang yang naik ke arah atap. Dan ternyata itu Tania.
“Apa kau sudah memperbaiki sofanya?” tanya Tania
“Lihat dan coba saja sendiri. Jawabku.
Tiba-tiba Tania berlari dan langsung melompat ke arah sofa tua itu.
“Keren, Terimakasih Fana.”
“Aku yang harusnya berterimakasih tan.” Kataku.
“Kenapa?” tanya Tania
“Walaupun ini tidak ada hubungannya dengan sofa, aku mau berterimakasih karena kamu sudah mau menjadi sahabatku. Terimakasih karena selalu berada disampingku dan mau menerima seseorang yang memiliki penyakit kejiwaan sepertiku.”
“Bagiku, memiliki atau tidak memiliki gangguan kejiawaan, itu tidak akan mengubah fakta kalau aku tetap ingin menjadi sahabatmu. Mungkin orang-orang tidak pernah tau bagaimana seorang Fana yang sebenarnya. Fana yang sangat baik dan lembut dan bahkan suka bercanda serta konyol, aku merasa beruntung karena bisa melihat hal yang tidak pernah orang lain lihat.” Kata Tania.
Aku benar-benar terhenyuh dengan kata-kata yang diucapkan Tania. Dalam hati aku berkata
“Mungkin Tania adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku dari gangguan bipolar disorderku ini. Dia selalu bisa merubah setiap mimpi buruk yang aku alami menjadi sebuah mimpi yang indah. Aku pasti akan selalu menjaganya.”
“Bukan aku yang harus kamu jaga fan tapi sofa tua ini.” Kata Tania
“Ha? Apa kau baru saja membaca pikiranku?” tanyaku.
“Pikiranmu? Memangnya kau memikirkan apa? “ tanya Tania
“Tidak, aku tak memikirkan apa-apa” jawabku sambil gugup dan malu.
“Fana apa aku boleh meminta satu hal lagi padamu? anggap saja ini permintaan terakhirku.” tanya Tania
“Apa?” jawabku
“Jangan berkelahi lagi” pinta Tania kepadaku.
Berkelahi memang adalah hal yang paling sering aku lakukan. Sangat susah untuk menghilangkan kebiasaanku ini karena aku sangat mudah tersinggung dan cepat sekali marah. dan setiap ada orang yang menantangku atau sekedar aku benci pasti akan langsung aku ajak untuk berkelahi denganku.
“Akan aku coba.” Jawabku.
lalu Tania tiba-tiba melompat ke arahku dan memelukku. Pelukan yang hangat dan menenangkan.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan lancar. Sudah seminggu ini aku sama sekali tidak ada masalah dengan orang-orang. Aku cukup bisa mengatur ritme emosi yang bergejolak di dalam diriku. Tidak lebih dan tidak kurang karena kehadiran Tania yang selalu ada di sampingku. Sampai pada hari itu.
Hari itu langit sangat gelap. Bahkan sejak pagi matahari sama sekali tak menampakan dirinya. “sepertinya akan turun hujan yang sangat deras.” Kataku.
Angin berhembus begitu kencang dan jalanan kota solo menjadi sangat mencekam karena begitu sepi. Daun-daun mulai berguguran dari pohon-pohon ditepi jalan. Saat itu jam menunjukan pukul 15.00. “apa sebaiknya aku telepon Tania ya? lalu mengajaknya makan siang. Dia mungkin belum makan.”
Aku segera menelepon Tania. Satu kali, dua kali. Tapi tak ada jawaban.
“Apa dia ada di atap ya” pikirku. Baiklah aku coba periksa kesana.
Tanpa prasangka buruk apapun aku segera menuju ke atap, Tempat biasa kami bertemu.
Sesampainya di atap aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. Semua peralatan yang ada disitu sudah tercerai berai dan berantakan. Bahkan sofa tua yang baru saja aku benahi juga hancur menjadi kepingan.
“Bajingan! siapa yang berani melakukan ini!” kataku
Tiba-tiba segerombolan pria sudah berdiri di belakangku. Beberapa dari mereka membawa pemukul baseball. aku tau orang-orang ini, mereka adalah orang yang beberapa hari lalu berkelahi denganku di halaman belakang gedung kampus. Tapi kali ini mereka berjumlah lebih banyak. “Satu orang, dua orang, enam orang, Iya itu perhitunganku.”
“Apa kalian semua yang sudah menghancurkan tempat ini?” tanyaku
“Tentu saja kami yang melakukanya. Ini pembalasan untuk semua kesombonganmu!?” jawab salah satu dari mereka.
Aku mulai mengambil nafas panjang dan berkata “Bajingan! Aku bunuh kalian semua!”
Saat itu juga perasaan marahku sudah mencapai puncaknya. Tubuhku seperti kemasukan setan, tak bisa dikendalikan. Mataku seakan buta arah yang ada dipikiranku hanyalah menghajar orang-orang ini sampai mereka tak bisa bernafas. Semua janjiku kepada Tania lenyap ditelan angin sore itu. Aku mengambil nafas panjang dan segera berlari menuju ke arah mereka. Aku pukul semua yang ada di depanku. Aku dipukul menggunakan pemukul baseball dari arah depan dan belakang.
“Bruk!, centrang!” kurang lebih seperti itu suaranya.
Akhirnya hujan turun dengan lebat sore itu. Membasahi semua kesalahan yang sudah aku lakukan. Tubuhku sudah tak bisa aku gerakkan Aku lihat orang-orang yang memukuliku juga sudah kehabisan tenaga, lalu Aku merangkak menuju sofa tua kesayanganku. “ah apa yang harus kukatakan pada Tania nanti, pasti dia sangat sedih melihat ini semua.”
“Fana!” terdengar suara memanggil namaku.
“Fana apa kau tidak apa-apa?, apa yang terjadi?”
“Tania kaukah itu? Maafkan aku tan, maaf.” Kataku.
“Kenapa minta maaf?” tanyanya
‘Maafkan aku karena aku tak bisa menjaga sofa tua kesayangan kita.”
“Apa kau bodoh? sekarang bukan waktunya mempedulikan hal itu.”
Mataku sudah sangat berat untuk dibuka. Darah terus bercucuran dari kepalaku badanku sama sekali tak bisa untuk kugerakkan.
“Aku akan mencari bantuan. Tunggulah disini.” Kata Tania
“Jangan pergi, jangan pergi Tan, tetaplah disini disampingku saja.” pintaku memohon.
“Tapi.”
“Aku mohon.”
“Anggap saja ini permintaan pertamaku sebagai sahabatmu.” Kataku.
Keesokan harinya aku bangun dengan badan yang penuh memar, sakit sekali rasanya.
Dan aku lihat Tania masih berbaring disampingku. Wajahnya terlihat polos. dan sangat cantik serta rambutnya yang harum. Aku benar-benar tidak pernah sadar kalo Tania secantik ini.
“Bangun tan.” Kataku pelan
“Hmm, apa sudah pagi?” tanyanya.
“Tidak ini masih malam” kataku
“Sejak kapan malam bisa secerah ini?”
“Sejak kamu berada disampingku.” Kataku menggoda.
“Syukurlah kau tidak apa-apa.” Tiba-tiba Tania menangis.
“Jangan menangis, aku tidak apa-apa.”
Dan karena tak kuat menahan perasaan bersalah aku juga ikut menangis pagi itu.
Kejadian kemarin tentu saja memberikan konsekuensi besar padaku. Karena beberapa pihak ada yang melaporkan kejadian itu. Tapi aku rasa orang-orang yang memukuliku adalah yang mengadu ke pihak kampus. Akhirnya aku di panggil oleh pihak kampusku. Dan diberikan hukuman. Tentu saja hukuman yang berat karena aku harus dikeluarkan dari kampus. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hukuman ini. Tapi Tania?. segera setelah selesai menerima hukuman aku menuju ke atap. karena aku pikir Tania pasti ada disana. Lalu aku lihat ada seorang wanita disana. Wanita yang selama ini aku sayangi sedang duduk termenung di dekat sofa tua kesayanganku.
“Tan.” Kataku memanggil. Tapi wanita itu masih diam seribu bahasa. Dan tetap termenung dengan kesedihannya.
“Halo, Tan. ” kataku memanggilnya sekali lagi.
“Eh. Ya fan?” tanya Tania
“Ayo kita buat perjanjian.” Jawabku.
“Perjanjian apa?”
“Sebuah janji yang akan menguji kita sebagai seorang sahabat. Walaupun kita terpisah jauh. Dan berjalan di jalan masing-masing.”
“Menguji kita?” tanya Tania.
“Ya, aku akan pergi dari kehidupanmu sampai waktu yang belum ditentukan. Kita sama sekali tidak boleh untuk menghubungi satu sama lain. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Anggap saja ini permintaan terakhirku sebagai sahabatmu.” Kataku pelan.
Janji yang sebenarnya sangat berat untuk aku katakan. Aku melakukan ini semua hanya karena aku ingin hidup Tania baik-baik saja. Tanpa si pembuat masalah sepertiku ada disampingnya. Aku mencoba bermain dengan takdirku. Jika memang Tania adalah perempuan yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku. Kami pasti bertemu lagi. Aku yakin itu.
“Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku akan percaya dengan takdir kita berdua. Ini bukanlah hal baik atau hal buruk, aku menganggap semua yang terjadi adalah momen berharga dalam hidupku.” Jawab Tania sambil memelukku lalu menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba suara Tania memcahkan lamunanku.
“Nah akhirnya selesai juga.” Kata Tania
“Terimakasih.” Kataku sambil masih menahan sakit
“Setahun sudah berlalu dan kau masih saja berkelahi? Apa kau tak ingin berubah.”
“Sudah setahun kita tidak bertemu.dan hal pertama yang kau lakukan adalah menceramahiku?”
“Bodoh.” Jawab Tania ambil memukul kepalaku.
“Aduh?!!”
“Apa kau mau pergi ke atap?” tanya Tania.
“Atap?”
Sudah lama sekali aku tidak ke tempat itu. tempat terbaik dimana aku menghabiskan waktu. Dan ya aku langsung teringat sofa tua kesayanganku. Bagaimana ya keadaannya sekarang. Pikirku sambil berangan-angan.
Dengan bantuan Tania karena aku masih sulit untuk berjalan. aku akhirnya sampai di atap. Tempat ini sudah berbeda. Bersih dan sangat terawat. Tulisan di tembok pun juga sudah hilang semua.
“Apa ini benar. Atap tempat kita berdua dulu selalu duduk bersama?” tanyaku.
“Ya tentu saja. Lihat disana. Sofa tua kesayanganmu pun juga masih ada.”
sambil masih menahan sakit di kepalaku. Aku segera menuju sofa tua kesayangaku. Sofa tua ini masih belum berubah. Masih berwarna cokelat agak kehitaman. Walaupun masih sedikit rapuh. Tapi tentu saja masih bisa digunakan. Lalu Tania pun bercerita tentang apa yang terjadi selama setahun ini. Dia masih sering pergi ke atap saat dia merasa kesepian. Hampir setiap hari dia melakukan aktifitas yang sama setiap selesai kuliah dia akan langsung menuju ke atap lalu merenung disana. Perilaku Tania ini akhirnya diketahui oleh pihak fakultasku. Lalu pihak fakultas menawarkan untuk merenovasi atap dengan syarat Tania yang mengatur bagaimana renovasi itu. Lalu tania pun juga meminta satu hal kepada mereka. Permintaannya sederhana. Tania hanya tidak ingin Sofa tua itu dipindahkan. Dan pihak fakultasku pun setuju dengan permintaan itu.
“Mungkin ini benar takdir kita berdua ya fan. kau masih ingat janji kita berdua?” tanya Tania
“Tentu saja, apa berarti juga kau adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku ya .”jawabku.
“Entahlah. Tapi jika memang itu adalah takdir yang benar. Aku akan berada disampingmu. Dan terus berusaha menemanimu.”
“Terimakasih.” Jawabku sambil meneteskan air mata.
“Jangan menangis, aku tidak ingin melihat sahabatku menangis.” Kata Tania, berusaha menenangkanku.
Lalu Tania memelukku sangat erat. Dan berteriak “Fanaaaa!!, ayo kita jual sofa tua ini. Dan beli sofa yang baru dan bagus.”
“Apa?.” Kataku terkejut dan lalu tertawa terbahak-bahak bersama Tania.
.
.







