MENARILAH SEMESTAKU
![]() |
| ilustrasi google.com |
Tatanan Kehidupan yang semakin runyam serta alam yang tidak lagi bersahabat dengan manusia, seakan dunia ini sudah habis masa hidupnya. langit yang tidak lagi biru dan awan yang terlihat suram seolah menandakan kesedihan dari Sang Pencipta atas apa yang telah diperbuat oleh ciptaan-Nya yang paling sempurna yaitu manusia. Terkadang manusia sering melakukan sebuah kesalahan dan bukannya meminta maaf atas kesalahan tersebut, manusia malah akan sibuk mencari alasan untuk membenarkan apa yang sudah dilakukannya. Semesta seolah tahu apa saja keganjilan yang sudah diperbuat oleh manusia.
Dewasa ini itulah yang Aku rasakan dari kehidupan bermasyarakat di sekitarku. Banyak sekali manusia yang tidak mau menghargai alamnya. membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara ilegal dan bahkan membuang-buang air yang sangat berharga, Itu perbuatan yang kurang baik menurutku. padahal sepuluh tahun lagi harga air mungkin saja bisa lebih mahal dari harga emas.
“Kau tahu Tania Bukankah manusia adalah makhluk yang kejam?” kataku sebagai kalimat pembuka pagi kepada istriku yang sedang menyiapkan sarapan.
“Kenapa berbicara seperti itu?” tanya istriku heran.
“Manusia seperti tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih kepada alam yang bahkan sudah berjasa menyediakan berbagai keperluan untuk mereka.” Jawabku.
“Tapi tidak semua manusia bersikap seperti itu kan kepada alam.” Jawab istriku.
“Memang tidak semua manusia seperti itu, tapi kebanyakan manusia bersikap seperti itu.”
“Mungkin saja Sikap dan perilaku dari manusia yang hidup di kota dan di desa adalah sesuatu yang berbeda. Jadi jangan kau samakan keduanya. Itu kan yang sedang kau bandingkan dari arah pembicaraan ini sayang?” kata istriku.
“Mungkin apa yang kau katakan benar. kata-katamu membuaku ingin sejenak bernostalgia tentang kehidupan di desa pada jaman dahulu kala. Saat Aku masih remaja.” Kataku.
“Baiklah ceritakanlah bagaimana kehidupanmu di desa dulu, aku akan mendengarkannya sembari memasak sarapan ini untukmu sayang.” Jawab istriku.
“baik, dengarkan ceritaku ya.” Kataku bersemangat.
Dahulu kala saat Aku masih tinggal di sebuah desa yang sangat asri dengan pohon yang menjulang tinggi serta daun yang rindang. Udara di desaku ini sangatlah sejuk, bukan hanya menyejukkan diri tapi juga menyejukkan nurani dari setiap orang yang hidup di dalamnya. Mungkin itu juga alasan masyarakat di desa ku bersikap begitu ramah satu sama lain Karena aku pikir kesejukkan ini membawa berkah kepada mereka.
“Nak hari ini kau menggantikan Ayahmu untuk pergi kerja bakti di Alun-alun desa ya.” Kata ibuku memecahkan lamunanku.
“Kenapa harus Aku bu.” Jawabku sembari mengeluh.
“Ayahmu sedang sakit. Jadi kau yang harus berangkat.”
“Baiklah Bu aku akan berangkat.” Ucapku sambil berjalan dengan sedikit segan.
Karena Aku anak yang berbakti kepada orang tua tentu saja aku berangkat untuk melaksanakan kerja bakti di alun-alun desa menggantikan Ayahku. Perjalanan dari rumah Ku menuju ke alun-alun desa sangatlah cepat karena memang jaraknya hanyalah 400 meter. Di Alun-alun aku sudah melihat banyak bapak-bapak sedang melaksanakan kerja bakti.
“Mati Aku, Aku yang paling muda disini apa yang harus aku katakan kepada bapak-bapak itu.” Kataku panik setengah mati.
“Apa yang sedang kau pikirkan nak?” tiba-tiba muncul sebuah suara dari belakangku.
“Eh tidak pak, Aku tidak sedang memikirkan apa-apa.” Jawabku.
“Kau anak dari Pak Yono kan?” tanya bapak tersebut kepadaku.
“iya pak benar, bagaimana Bapak bisa tahu?” Kataku balik bertanya.
“Tentu saja Aku tahu nak, Rumahku hanya berjarak 100meter dari rumahmu.”
“Benarkah?” Kataku sambil meminta maaf karena sudah bersikap kurang sopan, lalu kami berdua berjalan bersama menuju ke Alun-alun desa.
Sesampainya di Alun-alun Desa Bapak tadi memperkenalkanku kepada Bapak-bapak yang lain. Reaksi mereka sangatlah hangat akan kedatanganku. Aku segera membantu pekerjaan yang bisa aku lakukan. Mencabut rumput, memunguti daun pohon yang jatuh serta mengumpulkan sampah yang berserakan.
“Kau tahu nak kenapa kita harus melakukan kerja bakti seperti ini?” tanya Bapak yang berjalan denganku tadi.
“Agar Desa ini bersih kan?”. Jawabku dengan nada yakin.
“Ya tentu saja agar Desa ini bersih, tapi bukan hanya itu saja nak.”
“Lalu apalagi pak?” tanyaku keheranan.
“Kerja bakti dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kita menghargai alam yang sudah disediakan oleh Tuhan kepada kita. Alam sudah berjasa memberikan bagiannya untuk kelangsungan kehidupan umat manusia, contohnya seperti pohon yang memberikan oksigennya kepada kita, anggap saja ini adalah bagaimana cara manusia yang memiliki kemampuan terbatas membalas kebaikan tersebut meskipun alam tidak pernah meminta balasan.”
“Apa alam tahu apa yang kita perbuat untuknya pak?” tanyaku.
“Tentu saja alam tahu apa yang kita perbuat, alam semesta tahu bagaimana manusia bersikap. Itu sebabnya juga terjadi bencana alam. Alam seakan marah dengan apa yang manusia perbuat kepadanya. Tidak jarang manusia enggan menghargai apa yang sudah Alam Semesta berikan untuk mereka, lalu atas ijin Tuhan alam pun meluapkan kemarahannya.”
“Lalu apa yang harus kita perbuat agar alam tidak lagi marah kepada kita pak?” tanyaku.
“Yang harus kita lakukan adalah membalas kebaikan alam semesta. Semua itu bisa dimulai dari diri sendiri, seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan lain-lain. Dengan begitu alam pun akan berterimakasih kepada kita karena kita mau menjaganya.” Jawab bapak itu.
Percakapan dengan bapak yang bahkan aku tidak sempat menanyakan namanya tadi membuatku sadar, Aku merasa malu dengan apa yang telah aku perbuat. Seolah Aku menjadi manusia yang tidak tahu diri dengan apa yang sudah aku perbuat, menjadi manusia yang kurang bersyukur kepada apa yang telah diperoleh dan bahkan kurang merasa peka akan lingkungan sekitar.
“Nak ayo kesinilah kita istirahat dulu.” Teriak Bapak itu memanggilku yang sedari tadi mencabuti rumput.
“Baik pak” jawabku sambil menghampiri mereka.
Semenjak kerja bakti hari itu Aku merasa harus ikut andil menjaga alam semesta. Dengan mengingatkan orang lain akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari diriku sendiri. Hal ini Aku lakukan tentu saja karena aku masih seorang manusia, Manusia yang sadar benar apa yang harus dilakukan mengingat dosa-dosaku kepada alam semesta ciptaan-Nya. Lalu sejenak aku berpikir “Ternyata ada keuntungan juga dari sakitnya Ayahku.”
“Jadi waktu itu kau senang Ayahmu sakit sayang?” Tiba-tiba istriku menyelaku yang tengah bercerita.
“Tentu saja tidak, maksudku bukan seperti itu, hanya saja jika bukan karena itu, Aku tidak akan bertemu dengan Bapak tadi dan tidak akan pernah mengerti bagaimana bersikap yang benar sebagai manusia kepada ciptaan-Nya. Yaitu Alam Semesta.
“Baiklah Aku hanya bercanda, lanjutkan ceritamu.” Pinta istriku.
Sejak aku kecil hingga sekarang dewasa. Ada satu Fenomena Alam Semesta yang paling Aku sukai yaitu hujan. Hujan seperti memiliki dua sisi antara baik dan buruk tergantung bagaimana kita menyikapinya. Hujan mengajarkan kita bagaimana sebuah hal yang dianggap buruk oleh satu orang bisa menjadi suatu hal yang sangat berharga bagi orang lain. Di satu sisi mungkin hujan akan menjadi hal yang sangat berbahaya. Jelas karena akan menyebabkan banjir. Lagipula penyebab dari banjir itu sendiri bukanlah hujan melainkan orang-orang yang dengan seenak hati membuang sampah di sungai hingga membuat airnya meluap. Akan tetapi disisi lain hujan seolah menjadi rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia.
Hujan seakan membawa kenangan indah dan sedih secara bersamaan. Hujan mampu membuat pikiran kita dingin serta hati kita menjadi hangat di waktu yang tepat.
Sejenak mengistirahatkan kehidupan yang rasanya begitu berat ketika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
“Apa yang sedang kau lakukan nak? Masuklah kedalam rumah apa kau tidak kedinginan?” tanya ibuku.
“Tidak Bu, Aku sedang mengamati hujan.” Jawabku.
“Mengamati? Apa yang sedang kau amati dari hujan nak?”
“Aku sangat menyukai hujan bu, perasaan yang sama seperti aku menyukai anak Pak Haji dari Desa sebelah.”
“Apa hubungan hujan dan rasa sukamu kepada anak pak Haji di Desa sebelah nak?.”
“Entahlah bu, hanya saja aku begitu menggagumi hujan, aromanya ketika menyentuh tanah. Wanginya begitu menyenangkan sampai Aku tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Rasanya seperti aku ingin berlari dan menari-nari ditengah hujan turun. Aku tidak pernah tahu ada perasaan dingin yang terasa begitu hangat. Bukankah itu sebuah keajaiban bu?” tanyaku
“Iya mungkin itu adalah sebuah keajaiban, semua yang diciptakan oleh Allah pada dasarnya adalah sebuah keajaiban nak, sama seperti ketika Allah menciptakanmu, tentu saja Ayah dan Ibu menganggapmu juga adalah sebuah keajaiban. Begitu juga ketika Allah menciptakan perasaan sukamu kepada hujan dan anak Pak Haji dari desa sebelah.” Jawab ibuku.
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang Ibuku katakan. Mungkin saja benar kalau perasaan suka adalah keajaiban, perasaan tumbuh begitu alami dari setiap manusia, Sama seperti Alam Semesta yang memancarkan pesonanya dengan begitu indah dan alami. Seperti seorang penari yang melenggak-lenggokan tubuhnya dengan sangat luwes. Dua hal yang sama-sama harus kita jaga dengan segenap hati kita. Bukankah itu juga adalah tujuan hidup dari semua manusia yang ada di dunia ini. Menjaga dan melindungi apa yang penting bagi mereka. Dengan melestarikan alam kita juga akan mendapatkan hal baik dari alam seperti sebuah pepatah yang berbunyi Kita menuai apa yang kita tanam.
“Baiklah bu. Aku akan menjaga perasaan suka ini dengan hati-hati. Dan ketika waktunya tepat aku akan mengungkapkannya kepada dunia. Kepada alam semesta dan kepada anak pak Haji dari desa sebelah.” Ucapku dengan yakin.
Bahkan saat Aku sadar pada akhirnya hujan memberikan ku waktu yang sangat indah. Waktu dimana aku bisa berbincang bersama wanita yang paling aku sayangi di dunia ini, Ibundaku.
“Apa kau merindukan ibumu sayang?” Tanya istriku yang lagi-lagi memecahkan nostalgiaku.
“Tentu saja, rasanya aku ingin sekali kembali ke desa dan tinggal disana bersamamu. Tinggal bersama anak Pak Haji dari desa sebelah yang sangat aku cintai.”
“iya tapi kau menyamakan anak Pak Haji dari desa sebalah dengan fenomena alam. Apakah itu tidak sedikit keterlaluan?” tanya istriku.
“jika itu hal yang keterlaluan. Anak Pak Haji dari desa sebelah tidak akan mungkin menjadi istriku sekarang ini.”jawabku dengan sedikit menggoda.
“jangan menggodaku pagi-pagi seperti ini” jawab istriku dengan malu-malu.
“Bagiku dunia sebenernya tidak pernah berubah, yang berubah adalah manusia yang hidup di dalamnya. Manusia bisa tumbuh menjadi sosok yang baik atau jahat. Menjaga atau menghancurkan, tergantung apa yang menjadi pilihan mereka. Kita sebagai manusia tentu memiliki rasa empati. Bayangkan saja setiap kita melihat orang yang sedang kesusahan, bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang kita sayangi. Tentu kita tidak akan tinggal diam kan? Tapi pada akhirnya yang bisa kita lakukan hanyalah saling mengingatkan jika diantara kita ada yang melakukan kesalahan. Bahkan ketika ucapanmu tidak di dengarkan oleh siapapun. Tidak apa-apa. Teruslah bergerak maju dan jangan mudah menyerah. Yang terpenting adalah kau sudah mau melakukan kebaikan. Bersama-sama menjaga alam semesta dari tangan-tangan kotor manusia jahat yang hidup di Dunia ini. Agar kelak suatu saat nanti anak cucu kita juga dapat menikmati anugerah terindah dari Tuhan yaitu Alam semesta.”
“Baik, Aku mengerti. Sepertinya anak Pak Haji dari desa sebelah tidak salah menempatkan hatinya.”
“Maksudmu?” kataku terkejut.
“Pikir saja sendiri, lagipula Ini sarapannya sudah siap lebih baik kita makan dulu.”
“Baiklah istriku ayo kita makan.” Ucapku dengan semangat.







