SINESTESIA CLUB

CATATAN SEBELUM MATI

part 1 catatan sebelum mati
bahkan tidak semua orang menyukai keindahan ada yg memilih untuk terus berjalan di kegelapan. karena baginya., keheningan adalah sahabat baiknya. dan bisa saja apa yg dicari selama ini memang ada di sana entahlah orang-orang selalu bilang jawabannya ada diujung langit sampai- sampai lupa jika kaki masih menginjak tanah titip salamku pada rasa sakit itu yg tiap hari merusak dan melukai nurani mu
Part 2 catatan sebelum mati
bahkan ketika sejenak memejamkan mata saja rasa khawatir mu masih berkecamuk gila dan meletihkan ambisimu. seolah tidak ada satupun di dunia ini yg ada dipihak mu. titip salamku pada para bajingan itu yang tiap hari dengan bangsatnya meremehkan mu
part 3 catatan sebelum mati
bahkan pemandangan langit biru itu, asap dari beberapa kendaraan dan aliran sungai yg mengalun pelan. diikuti suara angin yg berhembus kencang. akankan kau hanya berdiri saja di sana? sementara keberanian yg kau kumpulkan itu sudah ada di ujung tanduknya. lantas apalagi yg kau tunggu? titip salamku pada segalanya yg mengekang ku kali ini akan kupastikan rantainya sudah tak ada di tanganku
Monggo Dilanjut
 

Obrolan Angkringan

Obrolan Angkringan

http://lovelybogor.com/wp-content/uploads/2016/05/angkringan-solo-lestari-03.jpg
google.com


Solo masih dingin sebab baru saja turun hujan. Hujan di bulan Oktober terasa begitu menggigil. Kabut pun turun pelan-pelan di jalanan Slamet Riyadi. Menyisakan kenangan dan keramahan warga kota solo. Sore ini senja tak nampak seperti biasa. Mungkin karena awan terlihat hitam sehitam dosa-dosa anak manusia di bumi. 
Beberapa Manusia mulai beristirahat, sisanya lagi memulai aktivitasnya dimalam hari. Malam ini aku berencana mengajak kawanku yang berasal dari Malang untuk berjalan-jalan menikmati waktu. Kota solo bagiku adalah sebuah kehangatan meskipun kehangatan yang aku maksud adalah banyaknya angkringan disudut jalan ataupun gang dan perempatan. Kesederhanaan adalah kebahagian yang paling mudah ditemukan. Karena tak memiliki tujuan akhirnya aku dan kawanku menepi di sebuah angkringan di salah satu sudut alun-alun Keraton.
“Sur mampir angkringan yo.” Kataku.
“Wah tumben ngajak mampir angkringan,”  Kata surya kawanku.
“Menghangatkan diril sambil ngobrol-ngobrol ringan lah.”
“Ayolah.” Kata kawanku Surya mengiyakan ajakanku.
Rasanya Tidak seperti biasa angkringan malam itu terasa sepi. Ya mungkin karena baru saja turun hujan jadi orang-orang malas untuk pergi keluar rumah.
“Kang kulo Pesen Susu Jahe panas nggih, Sur awakmu pesen opo?” (mas saya pesan susu jahe panas ya,sur kamu pesan apa?)
“Aku Jeruk anget wae”. Kata surya kawanku. (Aku jeruk hangat saja).
“Kaleh Jeruk anget nggih kang.”  (sama jeruk hangat ya mas).
“oke beres mas.” Kata si penjual angkringan yang segera menyiapkan apa yang aku pesan.
Selang beberapa menit pesanan kami datang. Ah harum aroma susu jahe memang menghangatkan. Seperti memahami kerinduan kepada orang tersayang dimanapun mereka berada.
“Ternuwun mas.” (makasih mas) Kataku.
Malam semakin larut dalam keheningan,tapi begitu banyak keanehan yang terjadi. Jika biasanya semakin malam kota Solo harusnya semakin sepi, tapi pada hari itu malah justru semakin ramai.
“Sur sadar ndak? Kok malah makin rame ya jalanan.” (Sur sadar tidak kok jalan semakin rame ya).
“iya juga ya, coba cek kalender mungkin ada event.”
Iya kota Solo itu banyak sekali diadakan acara kebudayaan. Mungkin satu bulan sekali pasti selalu diadakan acara kebudayaan. Kota yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal.
“Pantes rame Sur, ternyata malam ini peringatan Malam Satu Suro.” Kataku.
“Malam Satu Suro?.” tanya kawanku.
 “haha Oke, Sekarang duduk yang manis tak ceritain tentang Malam Satu Suro.” Kataku.
Dikota Solo setiap kali Tahun baru Islam tiba. Masyarakat memiliki Tradisi untuk memperingatinya. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Perayaan malam Satu Suro. Banyak hal yang bisa ditemui di perayaan malam Satu Suro, seperti Sekaten (Pasar malam) dan tentu saja yang paling menarik yaitu Kirab Kebo bule. Kenapa dipanggil kebo bule, karena kebo (kerbau) dikota Solo ini adalah jenis kerbau albino jadi kerbaunya sendiri cenderung berwarna putih.
“Sumpah ada kerbau berwarna putih?” tanya Surya kawanku.
“iya sur malah kerbaunya punya nama lo.”
“Siapa namanya?”
“Kyai Slamet.” jawabku
    Kerbau paling terkenal adalah kerbau Kyai Slamet. Sebenarnya Kyai Slamet bukanlah nama dari kerbau itu sendiri melainkan nama dari pusaka kerajaan yang tak kasat mata. Dan kerbau bule inilah yang bertugas untuk menjaga pusaka kasunanan Surakarta tersebut. Namun, karena pusaka ini bersifat tak kasat mata dan hanya Raja sendiri yang bisa melihatnya. Maka dari itu masyarakat menganggap kebo bule ini dengan sebutan Kyai Slamet.
“Wah keren ya pusakanya tak kasat mata.” Kata Suya terheran-heran.
“Tapi aku denger kabar angin katanya kebo Kyai Slamet sendiri sudah meninggal Sur.”
“Loh iya ta?”
“Nggih mas memang sudah meninggal.” Tiba-tiba saja Aku dan Surya dikejutkan oleh suara pemilik angkringan yang ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan kami.
“Monggo mas gabung mriki.” (Silahkan mas gabung disini) Kataku.
“Jadi kebetulan saudaraku itu Abdi dalem di Kraton mas jadi saya tau langsung dari Dia.” Kata Pemilik angkringan yang setelah itu kami tau ternyata namanya Tono.
“Ow begitu nggih mas.” Kataku yang semakin penasaran dengan cerita dari mas tono.
“Sejarahnya panjang mas tentang peringatan malam Satu Suro.” Kata mas Tono
“Gapapa mas Saya dan kawan Saya pengen tau lebih jelasnya.” Pintaku.
“Oke tak ceritain mas.” Jawab mas Tono.
“Hore” teriak kami berdua.
“Sewaktu Pemerintahan Paku Buwono II, sekitar abad ke 17 Kraton itu masih di Kartasura belum Di Solo mas, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi sebuah pemberontakan yang dilancarkan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat Raja Paku Buwono II harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan tinggal di sana untuk beberapa waktu hingga kondisi aman. Pada masa pelariannya di Ponorogo tersebut, Sang Raja Kartasura itu mendapatkan wangsit mas ya berupa bisikan gaib. Isi wangsitnya iku bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau yang warnanya iku cenderung putih suapaya Kerajaan itu aman mas.Nah kebetulan Bupati Ponorogo iku mau menunjukan baktinya kepada sinuwun. Dengan cara ya memberikan sepasang kebo bule. Kebo bule atau kerbau albino iku hewan peliharaan yang sangat langka. Maka sinuwun Paku Buwono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Solo dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.”
“Wah keren mas sejarahe, berarti kebo iku nenek moyange kita yo mas Hehe.”
“iyo mas, makanya sampai sekarang Kerbau iku dijaga satu kali duapuluh empat jam.” Kata mas Tono
“Wajib lapor mas. Haha.” Jawab Surya.
"Haha mas bisa aja.”
    Tradisi Kirab Kebo bule ini memang sudah sangat melekat di kehidupan masyarakat Kota Solo. Rasa antusias masyarakat sendiri sangatlah besar. Bahkan bukan hanya warga kota Solo yang datang saat perayaan Kirab Kebo Bule diadakan. Masyarakat dari segala penjuru kota datang berkumpul di kota Solo yang begitu kecil tapi sangat indah ini. Selama Kirab berlangsung biasanya para Abdi Dalem akan melakukan tapa bisu atau tidak berbicara. Kerbau Bule akan diarak di jalanan. Dan biasanya para warga akan berebut untuk menyetuh kebo yang sangat keramat ini. Bahkan sebagian Masyarakat percaya jika bisa menyentuh kebo bule ini keberuntungan akan menghampiri hidup kita. Bukan Cuma itu saja, di sepanjang perjalanan saat kirab berlangsung kotoran dari kebo bule akan menjadi rebutan warga karena dipercaya membawa berkah bagi kehidupan.
    Kegiatan Kirab Malam Satu Suro sendiri diadakan atau tidaknya juga bergantung kepada kebo bule yang ada. Jika para kebo tidak mau keluar kandang, maka kirab tidak akan dilaksanakan. Malam satu suro sendiri juga dipercaya sebagai malam yang sakral karena batas antara dunia manusia dan dunia gaib berada dalam garis tipis. Oleh sebab itu malam satu suro juga menjadi momentum para Raja dan Abdi Dalem untuk membersihkan pusaka yang ada di Kraton Kasunanan Surakarta.
“Mas wes jam duabelas lo aku arep tutup.” Kata mas Tono.
“lah mas, tumben jam rolas wes tutup. Biasane sampai jam telu baru tutup.” (Kok tumben jam duabelas sudah tutup biasanya sampai jam tiga) Tanyaku.
“Arep nonto Kirab mas, ayo nonton bareng.” (mau nonton kirab mas, ayo nonton bareng).
“Weh iyo ya. Yowes ayo sur kita nonton juga bareng mas Tono.” Ajakku.
“Siap. Aku juga penasaran pengen nonton langsung.” Jawab Surya.
“Yowes ayo aku dibantu kukut-kukut ben cepet rampung gek budhal nonton.” (yasudah ayo aku dibantu beres-beres biar cepet selesai terus pergi menonton) Kata mas Tono.
“Beres mas.” Jawabkku serentak dengan Surya.
    Malam yang sungguh menyenangkan karena selain mendapatkan teman baru wedang susu jahe dan jeruk anget yang kami pesan tadi ternyata tidak dipungut biaya. Terimakasih mas Tono malam ini begitu hangat dan syahdu.
Monggo Dilanjut
 

Menarilah Semestaku

MENARILAH SEMESTAKU

 ilustrasi google.com

Tatanan Kehidupan yang semakin runyam serta alam yang tidak lagi bersahabat dengan manusia, seakan dunia ini sudah habis masa hidupnya. langit yang tidak lagi biru dan awan yang terlihat suram seolah menandakan kesedihan dari Sang Pencipta atas apa yang telah diperbuat oleh ciptaan-Nya yang paling sempurna yaitu manusia. Terkadang manusia sering melakukan sebuah kesalahan dan bukannya meminta maaf atas kesalahan tersebut, manusia malah akan sibuk mencari alasan untuk membenarkan apa yang sudah dilakukannya. Semesta seolah tahu apa saja keganjilan yang sudah diperbuat oleh manusia.
Dewasa ini itulah yang Aku rasakan dari kehidupan bermasyarakat di sekitarku. Banyak sekali manusia yang tidak mau menghargai alamnya. membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara ilegal dan bahkan membuang-buang air yang sangat berharga, Itu perbuatan yang kurang baik menurutku. padahal sepuluh tahun lagi harga air mungkin saja bisa lebih mahal dari harga emas.
“Kau tahu Tania Bukankah manusia adalah makhluk yang kejam?” kataku sebagai kalimat pembuka pagi kepada istriku yang sedang menyiapkan sarapan.
“Kenapa berbicara seperti itu?” tanya istriku heran.
“Manusia seperti tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih kepada alam yang bahkan sudah berjasa menyediakan berbagai keperluan untuk mereka.” Jawabku.
“Tapi tidak semua manusia bersikap seperti itu kan kepada alam.” Jawab istriku.
“Memang tidak semua manusia seperti itu, tapi kebanyakan manusia bersikap seperti itu.”
“Mungkin saja Sikap dan perilaku dari manusia yang hidup di kota dan di desa adalah sesuatu yang berbeda. Jadi jangan kau samakan keduanya. Itu kan yang sedang kau bandingkan dari arah pembicaraan ini sayang?” kata istriku.
“Mungkin apa yang kau katakan benar. kata-katamu membuaku ingin sejenak bernostalgia tentang kehidupan di desa pada jaman dahulu kala. Saat Aku masih remaja.” Kataku.
“Baiklah ceritakanlah bagaimana kehidupanmu di desa dulu, aku akan mendengarkannya sembari memasak sarapan ini untukmu sayang.” Jawab istriku.
“baik, dengarkan ceritaku ya.” Kataku bersemangat.
    Dahulu kala saat Aku masih tinggal di sebuah desa yang sangat asri dengan pohon yang menjulang tinggi serta daun yang rindang. Udara di desaku ini sangatlah sejuk, bukan hanya menyejukkan diri tapi juga menyejukkan nurani dari setiap orang yang hidup di dalamnya. Mungkin itu juga alasan masyarakat di desa ku bersikap begitu ramah satu sama lain Karena aku pikir kesejukkan ini membawa berkah kepada mereka.
“Nak hari ini kau menggantikan Ayahmu untuk pergi kerja bakti di Alun-alun desa ya.” Kata ibuku memecahkan lamunanku.
“Kenapa harus Aku bu.” Jawabku sembari mengeluh.
“Ayahmu sedang sakit. Jadi kau yang harus berangkat.”
“Baiklah Bu aku akan berangkat.” Ucapku sambil berjalan dengan sedikit segan.
    Karena Aku anak yang berbakti kepada orang tua tentu saja aku berangkat untuk melaksanakan kerja bakti di alun-alun desa menggantikan Ayahku. Perjalanan dari rumah Ku menuju ke alun-alun desa sangatlah cepat karena memang jaraknya hanyalah 400 meter. Di Alun-alun aku sudah melihat banyak bapak-bapak sedang melaksanakan kerja bakti.
“Mati Aku, Aku yang paling muda disini apa yang harus aku katakan kepada bapak-bapak itu.” Kataku panik setengah mati.
“Apa yang sedang kau pikirkan nak?” tiba-tiba muncul sebuah suara dari belakangku.
“Eh tidak pak, Aku tidak sedang memikirkan apa-apa.” Jawabku.
“Kau anak dari Pak Yono kan?” tanya bapak tersebut kepadaku.
“iya pak benar, bagaimana Bapak bisa tahu?”  Kataku balik bertanya.
“Tentu saja Aku tahu nak, Rumahku hanya berjarak 100meter dari rumahmu.”
“Benarkah?” Kataku sambil meminta maaf karena sudah bersikap kurang sopan, lalu kami berdua berjalan bersama menuju ke Alun-alun desa.
    Sesampainya di Alun-alun Desa Bapak tadi memperkenalkanku kepada Bapak-bapak yang lain. Reaksi mereka sangatlah hangat akan kedatanganku. Aku segera membantu pekerjaan yang bisa aku lakukan. Mencabut rumput, memunguti daun pohon yang jatuh serta mengumpulkan sampah yang berserakan.
“Kau tahu nak kenapa kita harus melakukan kerja bakti seperti ini?” tanya Bapak yang berjalan denganku tadi.
“Agar Desa ini bersih kan?”. Jawabku dengan nada yakin.
“Ya tentu saja agar Desa ini bersih, tapi bukan hanya itu saja nak.”
“Lalu apalagi pak?” tanyaku keheranan.
“Kerja bakti dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kita menghargai alam yang sudah disediakan oleh Tuhan kepada kita. Alam sudah berjasa memberikan bagiannya untuk kelangsungan kehidupan umat manusia, contohnya seperti pohon yang memberikan oksigennya kepada kita, anggap saja ini adalah bagaimana cara manusia yang memiliki kemampuan terbatas membalas kebaikan tersebut meskipun alam tidak pernah meminta balasan.”
“Apa alam tahu apa yang kita perbuat untuknya pak?” tanyaku.
“Tentu saja alam tahu apa yang kita perbuat, alam semesta tahu bagaimana manusia bersikap. Itu sebabnya juga terjadi bencana alam. Alam seakan marah dengan apa yang manusia perbuat kepadanya. Tidak jarang manusia enggan menghargai apa yang sudah Alam Semesta berikan untuk mereka, lalu atas ijin Tuhan alam pun meluapkan kemarahannya.”
“Lalu apa yang harus kita perbuat agar alam tidak lagi marah kepada kita pak?” tanyaku.
“Yang harus kita lakukan adalah membalas kebaikan alam semesta. Semua itu bisa dimulai dari diri sendiri, seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan lain-lain. Dengan begitu alam pun akan berterimakasih kepada kita karena kita mau menjaganya.” Jawab bapak itu.

Percakapan dengan bapak yang bahkan aku tidak sempat menanyakan namanya tadi membuatku sadar,  Aku merasa malu dengan apa yang telah aku perbuat. Seolah Aku menjadi manusia yang tidak tahu diri dengan apa yang sudah aku perbuat, menjadi manusia yang kurang bersyukur kepada apa yang telah diperoleh dan bahkan kurang merasa peka akan lingkungan sekitar.
 “Nak ayo kesinilah kita istirahat dulu.” Teriak Bapak itu memanggilku yang sedari tadi mencabuti rumput.
“Baik pak” jawabku sambil menghampiri mereka.
   
Semenjak kerja bakti hari itu Aku merasa harus ikut andil menjaga alam semesta. Dengan mengingatkan orang lain akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari diriku sendiri. Hal ini Aku lakukan tentu saja karena aku masih seorang manusia, Manusia yang sadar benar apa yang harus dilakukan mengingat dosa-dosaku kepada alam semesta ciptaan-Nya. Lalu sejenak aku berpikir  “Ternyata ada keuntungan juga dari sakitnya Ayahku.”
“Jadi waktu itu kau senang Ayahmu sakit sayang?” Tiba-tiba istriku menyelaku yang tengah bercerita.
“Tentu saja tidak, maksudku bukan seperti itu, hanya saja jika bukan karena itu, Aku tidak akan bertemu dengan Bapak tadi dan tidak akan pernah mengerti bagaimana bersikap yang benar sebagai manusia kepada ciptaan-Nya. Yaitu Alam Semesta.
“Baiklah Aku hanya bercanda, lanjutkan ceritamu.” Pinta istriku.
    Sejak aku kecil hingga sekarang dewasa. Ada satu Fenomena Alam Semesta yang paling Aku sukai yaitu hujan. Hujan seperti memiliki dua sisi antara baik dan buruk tergantung bagaimana kita menyikapinya. Hujan mengajarkan kita bagaimana sebuah hal yang dianggap buruk oleh satu orang bisa menjadi suatu hal yang sangat berharga bagi orang lain. Di satu sisi mungkin hujan akan menjadi hal yang sangat berbahaya. Jelas karena akan menyebabkan banjir. Lagipula penyebab dari banjir itu sendiri bukanlah hujan melainkan orang-orang yang dengan seenak hati membuang sampah di sungai hingga membuat airnya meluap. Akan tetapi disisi lain hujan seolah menjadi rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia.
 Hujan seakan membawa kenangan indah dan sedih secara bersamaan. Hujan mampu membuat pikiran kita dingin serta hati kita menjadi hangat di waktu yang tepat.
Sejenak mengistirahatkan kehidupan yang rasanya begitu berat ketika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
“Apa yang sedang kau lakukan nak? Masuklah kedalam rumah apa kau tidak kedinginan?” tanya ibuku.
“Tidak Bu, Aku sedang mengamati hujan.” Jawabku.
“Mengamati? Apa yang sedang kau amati dari hujan nak?”
“Aku sangat menyukai hujan bu, perasaan yang sama seperti aku menyukai anak Pak Haji dari Desa sebelah.”
“Apa hubungan hujan dan rasa sukamu kepada anak pak Haji di Desa sebelah nak?.”
“Entahlah bu, hanya saja aku begitu menggagumi hujan, aromanya ketika menyentuh tanah. Wanginya begitu menyenangkan sampai Aku tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Rasanya seperti aku ingin berlari dan menari-nari ditengah hujan turun. Aku tidak pernah tahu ada perasaan dingin yang terasa begitu hangat. Bukankah itu sebuah keajaiban bu?” tanyaku
“Iya mungkin itu adalah sebuah keajaiban, semua yang diciptakan oleh Allah pada dasarnya adalah sebuah keajaiban nak, sama seperti ketika Allah menciptakanmu, tentu saja Ayah dan Ibu menganggapmu juga adalah sebuah keajaiban. Begitu juga ketika Allah menciptakan perasaan sukamu kepada hujan dan anak Pak Haji dari desa sebelah.” Jawab ibuku.
   
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang Ibuku katakan. Mungkin saja benar kalau perasaan suka adalah keajaiban, perasaan tumbuh begitu alami dari setiap manusia, Sama seperti Alam Semesta yang memancarkan pesonanya dengan begitu indah dan alami. Seperti seorang penari yang melenggak-lenggokan tubuhnya dengan sangat luwes. Dua hal yang sama-sama harus kita jaga dengan segenap hati kita. Bukankah itu juga adalah tujuan hidup  dari semua manusia yang ada di dunia ini. Menjaga dan melindungi apa yang penting bagi mereka. Dengan melestarikan alam kita juga akan mendapatkan hal baik dari alam seperti sebuah pepatah yang berbunyi Kita menuai apa yang kita tanam.
“Baiklah bu. Aku akan menjaga perasaan suka ini dengan hati-hati. Dan ketika waktunya tepat aku akan mengungkapkannya kepada dunia. Kepada alam semesta dan kepada anak pak Haji dari desa sebelah.” Ucapku dengan yakin.
    Bahkan saat Aku sadar pada akhirnya hujan memberikan ku waktu yang sangat indah. Waktu dimana aku bisa berbincang bersama wanita yang paling aku sayangi di dunia ini, Ibundaku.
“Apa kau merindukan ibumu sayang?” Tanya istriku yang lagi-lagi memecahkan nostalgiaku.
“Tentu saja, rasanya aku ingin sekali kembali ke desa dan tinggal disana bersamamu. Tinggal bersama anak Pak Haji dari desa sebelah yang sangat aku cintai.”
“iya tapi kau menyamakan anak Pak Haji dari desa sebalah dengan fenomena alam. Apakah itu tidak sedikit keterlaluan?” tanya istriku.
“jika itu hal yang  keterlaluan. Anak Pak Haji dari desa sebelah tidak akan mungkin menjadi istriku sekarang ini.”jawabku dengan sedikit menggoda.
“jangan menggodaku pagi-pagi seperti ini” jawab istriku dengan malu-malu.
“Bagiku dunia sebenernya tidak pernah berubah, yang berubah adalah manusia yang hidup di dalamnya. Manusia bisa tumbuh menjadi sosok yang baik atau jahat. Menjaga atau menghancurkan, tergantung apa yang menjadi pilihan mereka. Kita sebagai manusia tentu memiliki rasa empati. Bayangkan saja setiap kita melihat orang yang sedang kesusahan, bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang kita sayangi. Tentu kita tidak akan tinggal diam kan? Tapi pada akhirnya yang bisa kita lakukan hanyalah saling mengingatkan jika diantara kita ada yang melakukan kesalahan. Bahkan ketika ucapanmu tidak di dengarkan oleh siapapun. Tidak apa-apa. Teruslah bergerak maju dan jangan mudah menyerah. Yang terpenting adalah kau sudah mau melakukan kebaikan. Bersama-sama menjaga alam semesta dari tangan-tangan kotor manusia jahat yang hidup di Dunia ini. Agar kelak suatu saat nanti anak cucu kita juga dapat menikmati anugerah terindah dari Tuhan yaitu Alam semesta.”
“Baik, Aku mengerti. Sepertinya anak Pak Haji dari desa sebelah tidak salah menempatkan hatinya.”
“Maksudmu?” kataku terkejut.
“Pikir saja sendiri,  lagipula Ini sarapannya sudah siap lebih baik kita makan dulu.”
“Baiklah istriku ayo kita makan.” Ucapku dengan semangat.
Monggo Dilanjut
 

Sofa Tua si Pemarah


SOFA TUA SI PEMARAH



Di sebuah gang kecil di sudut kota, saat itu hujan turun dengan sangat lebat. tembok-tembok jalanan dengan berbagai macam tulisan menyertai langkahku menuju ke orang-orang yang sudah menunggu di sudut jalan.

"Satu,dua,tiga,empat,lima.lima orang ya? Baiklah ayo segera kita mulai." kataku, lalu segera berlari ke arah mereka dan memukul salah satu dari mereka.

pukulan demi pukulan aku lancarkan, tapi melawan lima orang sekaligus itu aku rasa tidak mungkin seimbang. walupun akhirnya aku berhasil menumbangkan tiga dari lima orang tersebut. tapi kondisiku sudah sangat parah. darah bercucuran di kepalaku, mataku juga sudah berkunang-kunang. tubuhku sudah sangat bergetar. sampai pada akhirnya sebuah pukulan keras melayang tepat di kepalaku.

"Bruk!" aku terjatuh dengan sangat keras di dekat sekumpulan tong sampah.

"Ahh kenapa hari ini harus hujan? kenapa langit harus menangis? apa kau juga memiliki gangguan kejiwaan sama sepertiku?" kataku, sambil memandang ke atas langit, lalu seketika aku tak sadarkan diri.

Setelah aku membuka mataku  langit yang kupandangi sudah berubah menjadi atap berwarna hitam kosong dengan hiasan bintang  berwarna merah. Bau yang kucium pun terasa tidak asing. Aku tau jelas ini adalah kamarku. Tapi bagaimana aku bisa ada disini?

"Kau sudah bangun? bagaimana keadaanmu?' terdengar suara seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatku berbaring.

"Siapa kau?’ tanyaku dengan mata yang masih berkunang-kunang

"Apa kau sudah melupakanku? Setelah satu tahun kita tidak bertemu.” Jawabnya.

“Ah kepalaku sangat sakit. Apa maksudmu berkata seperti itu?”

“Jangan bergerak dan berbaringlah, aku akan mengobati lukamu.” Katanya sambil mulai memperban luka di kepalaku pelan.

 ‘Bukalah matamu, ini aku Tania.”

“Tania? Tania!” aku yang terkejut sontak langsung membuka mataku lebar-lebar.

‘’Apa yang kau lakukan disini?” kataku bertanya sambil menahan sakit di kepalaku.

“Apa kau bodoh? Sudah kubilang jangan bergerak dan berbaringlah.”


Seorang wanita berbadan kecil dengan mata berwarna biru dan berambut pendek. ya aku tidak salah, dia memang Tania. Tania adalah sahabatku sejak aku masih kuliah dulu. setelah sebuah tragedi yang terjadi dan akhirnya membuatku untuk mulai memutuskan hubungan dengannya. perkenalkan namaku Fana dan aku memiliki gangguan kejiwaan bipolar disorder, gangguan bipolar disorder yaitu gangguan otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari. Dalam kasusku aku bisa menjadi seseorang yang sangat pemarah dan kasar lalu bisa juga menjadi seseorang yang lembut, tergantung suasana hati yang aku rasakan.


"Apa kau yang membawaku kemarin malam?' tanyaku.

"Iya, ponselku tiba-tiba berdering dan aku lihat namamu sebagai si penelepon. lalu seseorang berbicara di telepon dan mengatakan kalau kau sedang pingsan di sebuah jalan umum. Jadi aku segera kesana dan menemukanmu terkapar di dekat tong sampah. Lalu aku segera meminta bantuan beberapa orang untuk membawamu kerumahmu. apa kau berkelahi lagi? lalu bagaimana kabarmu? sepertinya buruk ya?" jawab Tania sambil tertawa sinis.

“Kabarku? kabarku seperti yang kau lihat sekarang dan ya kau benar, aku baru saja berkelahi.”

          

Satu  tahun yang lalu. Saat aku masih berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Di sebuah kampus yang pohonya sangat rindang dan menyejukkan. Aku adalah mahasiswa yang tidak memiliki teman sama sekali. Ya tentu saja karena sikapku yang pemarah Semua orang menjauhiku. Memalingkan mukanya ke arahku saja tidak ada yang berani Apalagi untuk berbicara denganku. Mungkin juga sudah tak terhitung berapa kali aku berkelahi di  kampusku ini. Sebuah prestasi yang tidak patut dibanggakan bukan?.

Tapi ada satu orang yang aku tidak pernah mengerti bagaimana jalan pikirannya. Iya dia Tania, sahabatku satu-satunya di kampus. Dia tidak pernah takut dengan gangguan kejiwaan yang aku derita  Bahkan di saat semua orang menjauhiku, dia masih berada disampingku. Sejak pertemuan pertama kami aku benar-benar ingat waktu itu. Saat dikelas tidak ada yang mau menerimaku sebagai anggota kelompoknya. Tania dengan beraninya menyapaku lalu mengajakku untuk membuat kelompok. Aku mungkin orang yang pemarah, tapi setiap ada seseorang yang peduli padaku aku akan sangat menghargainya. Itu sebabnya, karena Tania orang pertama yang memperlakukanku dengan baik, Aku mau menjadi sahabatnya.

“Hei Fana, kenapa diam saja?’ tanya Tania

“Aku sedang ingin melamun, jangan mengangguku!” jawabku.

“Melamun? pasti Melamun hal-hal jorok ya? ”

“Ngawur!  Sebentar lagi kita akan lulus dari universitas ini dan pada akhirnya kita akan berjalan di jalan masing-masing. Aku bahkan tidak tau masa depan seperti apa yang akan aku hadapi nanti.” Kataku.

“Kau tidak sedang sakit kan fan? tidak seperti biasanya kamu memikirkan masa depan.” Kata Tania dengan nada mengejek.

“Aku bicara serius, jangan bercanda!” kataku sedikit membentak.

“Sudahlah, tidak penting membahas hal seperti ini, ayo kita ke atap.” ajak Tania

Ya, aku dan Tania memiliki kesukaan yang sama, kami berdua suka dengan tempat yang tinggi. Dan atap gedung fakultasku adalah tempat yang paling cocok, dimana kami berdua bisa membicarakan banyak hal dan bahkan berteriak untuk sekedar menghilangkan penat. Tempat kumuh dengan banyak coretan tidak jelas di dindingnya. Disana ada sofa tua yang sudah sangat peyot, disitulah kami biasanya duduk berdua lalu bercanda dan kadang-kadang berdebat berbagai hal yang tidak penting. Sebuah sofa yang sangat aku jaga meskipun sudah rusak. tapi disitulah keistimewaan dari sofa tua ini. Meskipun sudah rapuh di setiap sudutnya. Sofa ini masih bisa digunakan.

tiba-tiba Tania berteriak. “Fanaaaaaaaaa!!”

“Apaaaa? Kataku juga dengan berteriak.

“Ayo kita perbaiki sofa ini. Bukan kita tapi kamu yang harus perbaiki.”

“Kenapa harus diperbaiki? Ini kan masih bisa digunakan”

“Iya memang masih bisa digunakan, Tapi kan akan sakit kalau digunakan untuk duduk lama .”

“hmm, aku pikir-pikir dulu ya”

“Anggap saja ini permintaan pertamaku sebagai sahabatmu. Aku mau sofa ini diperbaiki. Jadi lebih bagus. bagaimana?”

Tania memang orang yang aneh, disaat banyak perempuan mungkin meminta hal-hal yang mahal atau baru. Permintaan pertama sahabatku ini malah untuk memperbaiki sofa tua  yang peyot.

“Oke aku akan memperbaikinya.” Kataku.

“Asyik” sorak Tania gembira.

            Keesokan harinya karena kuliah hari ini libur. aku berencana untuk memperbaiki sofa tua seperti permintaan Tania kemarin. Saat itu kampus sangat sepi, pasti kalian bertanya-tanya kenapa tidak ada orang lain yang berani naik ke atap selain aku dan Tania. Itu karena semua orang aku ancam untuk tidak pergi kesana. Tentu saja karena ancamanku tidak ada yang berani   pergi kesana. Walaupun beberapa musuhku pernah menantangku berkelahi di atap. Tapi aku selalu menolak ajakan itu dan berkelahi melawan mereka di halaman belakang gedung. Bagiku, atap gedung adalah tempat yang sakral yang akan aku jaga sampai kapanpun. itu sebabnya, aku tidak pernah berkelahi di atap.

“Ah akhirnya selesai juga.” Kataku dengan keringat yang masih bercucuran karena lelah setelah selesai memperbaiki sofa tua peyot ini.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki seseorang yang naik ke arah atap. Dan ternyata itu Tania.

“Apa kau sudah memperbaiki sofanya?” tanya Tania

“Lihat dan coba saja sendiri. Jawabku.

Tiba-tiba Tania berlari dan langsung melompat ke arah sofa tua itu.

“Keren, Terimakasih Fana.”

“Aku yang harusnya berterimakasih tan.” Kataku.

“Kenapa?” tanya Tania

“Walaupun ini tidak ada hubungannya dengan sofa, aku mau berterimakasih karena kamu sudah mau menjadi sahabatku. Terimakasih karena selalu berada disampingku dan mau menerima seseorang yang memiliki penyakit kejiwaan sepertiku.”

“Bagiku, memiliki atau tidak memiliki gangguan kejiawaan, itu tidak akan mengubah fakta kalau aku tetap ingin menjadi sahabatmu. Mungkin orang-orang tidak pernah tau bagaimana seorang Fana yang sebenarnya. Fana yang sangat baik dan lembut dan bahkan suka bercanda serta konyol, aku merasa beruntung karena bisa melihat hal yang tidak pernah orang lain lihat.” Kata Tania.

Aku benar-benar terhenyuh dengan kata-kata yang diucapkan Tania. Dalam hati aku berkata

“Mungkin Tania adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku dari gangguan bipolar disorderku ini. Dia selalu bisa merubah setiap mimpi buruk yang aku alami menjadi sebuah mimpi yang indah. Aku pasti akan selalu menjaganya.”

“Bukan aku yang harus kamu jaga fan tapi sofa tua ini.” Kata Tania

“Ha? Apa kau baru saja membaca pikiranku?” tanyaku.

“Pikiranmu? Memangnya kau memikirkan apa? “ tanya Tania

“Tidak, aku tak memikirkan apa-apa” jawabku sambil gugup dan malu.

“Fana apa aku boleh meminta satu hal lagi padamu? anggap saja ini permintaan terakhirku.” tanya Tania

“Apa?” jawabku

“Jangan berkelahi lagi” pinta Tania kepadaku.

            Berkelahi memang adalah hal yang paling sering aku lakukan. Sangat susah untuk menghilangkan kebiasaanku ini karena aku sangat mudah tersinggung dan cepat  sekali marah. dan setiap ada orang yang menantangku atau sekedar aku benci pasti akan langsung aku ajak untuk berkelahi denganku.

“Akan aku coba.” Jawabku.

lalu Tania tiba-tiba melompat ke arahku dan memelukku. Pelukan yang hangat dan menenangkan.

            Hari-hari berikutnya berjalan dengan lancar. Sudah seminggu ini aku sama sekali tidak ada masalah dengan orang-orang. Aku cukup bisa mengatur ritme emosi yang bergejolak di dalam diriku. Tidak lebih dan tidak kurang karena kehadiran Tania yang selalu ada di sampingku. Sampai pada hari itu.

            Hari itu langit sangat gelap. Bahkan sejak pagi matahari sama sekali tak menampakan dirinya. “sepertinya akan turun hujan yang sangat deras.” Kataku.

Angin berhembus begitu kencang dan jalanan kota solo menjadi sangat mencekam karena begitu sepi. Daun-daun mulai berguguran dari pohon-pohon ditepi jalan. Saat itu jam menunjukan pukul 15.00. “apa sebaiknya aku telepon Tania ya? lalu mengajaknya makan siang. Dia mungkin belum makan.”

Aku segera menelepon Tania. Satu kali, dua kali. Tapi tak ada jawaban.

“Apa dia ada di atap ya” pikirku. Baiklah aku coba periksa kesana.

Tanpa prasangka buruk apapun aku segera menuju ke atap, Tempat biasa kami bertemu.

            Sesampainya di atap aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. Semua peralatan yang ada disitu sudah tercerai berai dan berantakan. Bahkan sofa tua yang baru saja aku benahi juga hancur menjadi kepingan.

“Bajingan! siapa yang berani melakukan ini!” kataku

            Tiba-tiba segerombolan pria sudah berdiri di belakangku. Beberapa dari mereka membawa pemukul baseball. aku tau orang-orang ini, mereka adalah orang yang beberapa hari lalu berkelahi denganku di halaman belakang gedung kampus. Tapi kali ini mereka berjumlah lebih banyak. “Satu orang, dua orang, enam orang, Iya itu perhitunganku.”

“Apa kalian semua yang sudah menghancurkan tempat ini?” tanyaku

“Tentu saja kami yang melakukanya. Ini pembalasan untuk semua kesombonganmu!?” jawab salah satu dari mereka.

Aku mulai mengambil nafas panjang dan berkata “Bajingan! Aku bunuh kalian semua!”

Saat itu juga perasaan marahku sudah mencapai puncaknya. Tubuhku seperti kemasukan setan, tak bisa dikendalikan. Mataku seakan buta arah yang ada dipikiranku hanyalah menghajar orang-orang ini sampai mereka tak bisa bernafas. Semua janjiku kepada Tania  lenyap ditelan angin sore itu. Aku mengambil nafas panjang dan segera berlari menuju ke arah mereka. Aku pukul semua yang ada di depanku. Aku dipukul menggunakan pemukul baseball dari arah depan dan belakang.

“Bruk!, centrang!” kurang lebih seperti itu suaranya.

            Akhirnya hujan turun dengan lebat sore itu. Membasahi semua kesalahan yang sudah aku lakukan. Tubuhku sudah tak bisa aku gerakkan Aku lihat orang-orang yang memukuliku juga sudah kehabisan tenaga, lalu Aku merangkak menuju sofa tua kesayanganku. “ah apa yang harus kukatakan pada Tania nanti, pasti dia sangat sedih melihat ini semua.”

“Fana!” terdengar suara memanggil namaku.

“Fana apa kau tidak apa-apa?, apa yang terjadi?”

“Tania kaukah itu? Maafkan aku tan, maaf.” Kataku.

“Kenapa minta maaf?” tanyanya

‘Maafkan aku karena aku tak bisa menjaga sofa tua kesayangan kita.”

“Apa kau bodoh? sekarang bukan waktunya mempedulikan hal itu.”

Mataku sudah sangat berat untuk dibuka. Darah terus bercucuran dari kepalaku badanku sama sekali tak bisa untuk kugerakkan.

“Aku akan mencari bantuan. Tunggulah disini.” Kata Tania

“Jangan pergi, jangan pergi Tan, tetaplah disini disampingku saja.” pintaku memohon.

“Tapi.”

“Aku mohon.”

“Anggap saja ini permintaan pertamaku sebagai sahabatmu.” Kataku.


Keesokan harinya aku bangun dengan badan yang penuh memar, sakit sekali rasanya.

Dan aku lihat Tania masih berbaring disampingku. Wajahnya terlihat polos. dan sangat cantik serta rambutnya yang harum. Aku benar-benar tidak pernah sadar kalo Tania secantik ini.

“Bangun tan.” Kataku pelan

“Hmm, apa sudah pagi?” tanyanya.

“Tidak ini masih malam” kataku

“Sejak kapan malam bisa secerah ini?”

“Sejak kamu berada disampingku.” Kataku menggoda.

“Syukurlah kau tidak apa-apa.” Tiba-tiba Tania menangis.

“Jangan menangis, aku tidak apa-apa.”

Dan karena tak kuat menahan perasaan bersalah aku juga ikut menangis pagi itu.

            Kejadian kemarin tentu saja memberikan konsekuensi besar padaku. Karena beberapa pihak ada yang melaporkan kejadian itu. Tapi aku rasa orang-orang yang memukuliku adalah yang mengadu ke pihak kampus. Akhirnya aku di panggil oleh pihak kampusku. Dan diberikan hukuman. Tentu saja hukuman yang berat karena aku harus dikeluarkan dari kampus. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hukuman ini. Tapi Tania?. segera setelah selesai menerima hukuman aku menuju ke atap. karena aku pikir Tania pasti ada disana. Lalu aku lihat ada seorang wanita disana. Wanita yang selama ini aku sayangi sedang duduk termenung di dekat sofa tua kesayanganku.

“Tan.” Kataku memanggil. Tapi wanita itu masih diam seribu bahasa. Dan tetap termenung dengan kesedihannya.

“Halo, Tan. ” kataku memanggilnya sekali lagi.

“Eh. Ya fan?” tanya Tania

“Ayo kita buat perjanjian.” Jawabku.

“Perjanjian apa?”

“Sebuah janji yang akan menguji kita sebagai seorang sahabat. Walaupun kita terpisah jauh. Dan berjalan di jalan masing-masing.”

“Menguji kita?” tanya Tania.

“Ya, aku akan pergi dari kehidupanmu sampai waktu yang belum ditentukan. Kita sama sekali tidak boleh untuk menghubungi satu sama lain. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Anggap saja ini permintaan terakhirku sebagai sahabatmu.” Kataku pelan.

 Janji yang sebenarnya sangat berat untuk aku katakan. Aku melakukan ini semua hanya karena aku ingin hidup Tania baik-baik saja. Tanpa si pembuat masalah sepertiku ada disampingnya. Aku mencoba bermain dengan takdirku. Jika memang Tania adalah perempuan yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku. Kami pasti bertemu lagi. Aku yakin itu.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku akan percaya dengan takdir kita berdua. Ini bukanlah hal baik atau hal buruk, aku menganggap semua yang terjadi adalah momen berharga dalam hidupku.” Jawab Tania sambil memelukku lalu menangis tersedu-sedu.


Tiba-tiba suara Tania memcahkan lamunanku.

“Nah akhirnya selesai juga.” Kata Tania

“Terimakasih.” Kataku sambil masih menahan sakit

“Setahun sudah berlalu dan kau masih saja berkelahi? Apa kau tak ingin berubah.”

“Sudah setahun kita tidak bertemu.dan hal pertama yang kau lakukan adalah menceramahiku?”

“Bodoh.” Jawab Tania ambil memukul kepalaku.

“Aduh?!!”

“Apa kau mau pergi ke atap?” tanya Tania.

“Atap?”

Sudah lama sekali aku tidak ke tempat itu. tempat terbaik dimana aku menghabiskan waktu. Dan ya aku langsung teringat sofa tua kesayanganku. Bagaimana ya keadaannya sekarang. Pikirku sambil berangan-angan.


            Dengan bantuan Tania karena aku masih sulit untuk berjalan. aku akhirnya sampai di atap. Tempat ini sudah berbeda. Bersih dan sangat terawat. Tulisan di tembok pun juga sudah hilang semua.

“Apa ini benar. Atap tempat kita berdua dulu selalu duduk bersama?” tanyaku.

“Ya tentu saja. Lihat disana. Sofa tua kesayanganmu  pun juga masih ada.”

sambil masih menahan sakit di kepalaku. Aku segera menuju sofa tua kesayangaku. Sofa tua ini masih belum berubah. Masih berwarna cokelat agak kehitaman. Walaupun masih sedikit rapuh. Tapi tentu saja masih bisa digunakan. Lalu Tania pun bercerita tentang apa yang terjadi selama setahun ini. Dia masih sering pergi ke atap saat dia merasa kesepian. Hampir setiap hari dia melakukan aktifitas yang sama setiap selesai kuliah dia akan langsung menuju ke atap lalu merenung disana. Perilaku Tania ini akhirnya diketahui oleh pihak fakultasku. Lalu pihak fakultas menawarkan untuk merenovasi atap dengan syarat Tania yang mengatur bagaimana renovasi itu. Lalu tania pun juga meminta satu hal kepada mereka. Permintaannya sederhana. Tania hanya tidak ingin Sofa tua itu dipindahkan. Dan pihak fakultasku pun setuju dengan permintaan itu.

“Mungkin ini benar takdir kita berdua ya fan. kau masih ingat janji kita berdua?” tanya Tania

“Tentu saja, apa berarti juga kau adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkanku ya .”jawabku.

“Entahlah. Tapi jika memang itu adalah takdir yang benar. Aku akan berada disampingmu. Dan terus berusaha menemanimu.”

“Terimakasih.” Jawabku sambil meneteskan air mata.

 “Jangan menangis, aku tidak ingin melihat sahabatku menangis.” Kata Tania, berusaha menenangkanku.

Lalu Tania memelukku sangat erat. Dan berteriak “Fanaaaa!!, ayo kita jual sofa tua ini. Dan beli sofa yang  baru dan bagus.”

“Apa?.” Kataku terkejut dan lalu tertawa terbahak-bahak bersama Tania.


.




.





Monggo Dilanjut
 
diooda